Kenapa golput? Barangkali kemuakan kita pada ulah politikus. Dalam politik , kata Napoleon, kebodohan bukanlah cacat. Maka di Indonesia pun politikus ngawur berjibun. Sudah ngawur bodoh pula. Bahaya tumpuk undhung. Seorang penulis Skotlandia, Robert Louis Stevenson (1859-1894) menguraikan, “Politik barangkali menjadi satu-satunya profesi yang tidak membutuhkan persiapan pemikiran yang memadai."
Alangkah menyedihkannya.
Namun nasehat Pericles mungkin jadi akan terasa getir, “Hanya karena Anda tidak mengambil minat dalam politik, tidak berarti politik tidak akan mengambil minat pada Anda,…"
Sementara seperti kutbah Hitler, sang pemimpin Nazi itu, “Alangkah beruntungnya penguasa, bila rakyatnya tidak bisa berpikir. Aku tidak perlu berpikir karena aku adalah pegawai pemerintah.” Dan dalam praksis politik, tidak penting beda antara tidak berfikir, diam saja, atau pura-pura tak mendengar, berlagak netral dan sok filosofis. Dalam konsep one man one vote, ketidakhadiran adalah nihil.
Belum lagi jika “bahasa politik dirancang untuk membuat kebohongan terdengar jujur dan pembunuhan terhormat , dan memberikan penampilan soliditas angin murni,” sebagaimana kata novelis George Orwell.
Maka mereka yang mendiamkan, adalah mempercayai, atau setidaknya meloloskan politikus busuk lewat di depan hidung. Dan itu menyedihkan, karena sebagaimana dikatakan Charles de Gaulle, Presiden Perancis Pertama: “Politisi tidak pernah percaya akan ucapan mereka sendiri, karena itulah mereka sangat terkejut bila rakyat mempercayainya.”
Dan setelah mereka terkejut, mereka berkuasa, tanpa persetujuan kita, dan mereka akan menentukan masa depan atau hajat hidup kita? Disitulah kita percaya omongan getir Will Rogers, Pelawak Politik. Bahwa politik itu mahal, bahkan untuk kalahpun kita harus mengeluarkan banyak uang.
Biaya itulah yang kemudian kita tanggung, sebagai rakyat. Kita akan terkena imbasnya, bahkan sampai pada anak-cucu. Padahal, pada hakikinya seperti dibilang Milan Kundera, “Orang selalu berteriak mereka ingin menciptakan masa depan yang lebih baik. Itu tidak benar. Satu-satunya alasan orang ingin menjadi tuan dari masa depan adalah untuk mengubah masa lalu.”
Celakanya, “Salah satu hukuman karena menolak untuk berpartisipasi dalam politik," kata Plato, "adalah bahwa Anda berakhir diperintah oleh bawahan Anda.” Siapa bawahan Anda? Seperti yang dibilang Napoleon, atau Robert Louis Stevenson, atau Pericles di atas. Maukah Anda dipimpin oleh orang bodoh?
Siapa itu orang bodoh? Lihat saja sejarah hidup seorang capres, atau caleg, atau cagub, cabup, dan sebagainya. Bagaimana pemikirannya, track-recordnya. Gimana kalau yang ditemui hanya pencitraan, berita hoax, dan sejenisnya? Ya, kenapa juga menyerah begitu saja, padahal akses informasi begitu mudahnya?
Itu namanya menghina diri-sendiri dengan mempercayai berita-berita abal-abal. Kebodohan diri-sendiri jangan kemudian disalahkan pada orang, pihak lain, atau sistem. Apalagi masih menganggap pandangannyalah yang paling pintar dan paling benar. Sombong kok rendah hati, hanya karena takut dikatakan bodoh tanpa berjuang. Aneh.
Berthold Brecht (1898 – 1956), seorang penyair Jerman, yang juga dramawan, sutradara teater, dan marxis, nasehatnya penting kita renungkan;"Buta yang terburuk adalah buta politik, dia tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu dan obat, semua tergantung pada keputusan politik. Orang yang buta politik begitu bodoh sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya mengatakan bahwa ia membenci politik. Si dungu tidak tahu bahwa dari kebodohan politiknya lahir pelacur, anak terlantar, dan pencuri terburuk dari semua pencuri, politisi buruk, rusaknya perusahaan nasional dan multinasional yang menguras kekayaan negeri."